Showing posts with label Komik Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Komik Indonesia. Show all posts

Saturday, April 21, 2012

Sunday, September 18, 2011

Teguh Santosa..dilahirkan di Malang, Jawa Timur

Teguh Santosa: Dokumentasi Retrospeksi 1942-2000.



Teguh Santosa



Teguh Santosa, salah seorang maestro komik Indonesia, dilahirkan di Malang, Jawa Timur pada tanggal 1 Pebruari 1942. Ia menamatkan pendidikan formal di kota itu. Tetapi untuk kemampuan menggambar, Teguh mempelajarinya secara otodidak. Pada tahun 1962, Teguh bergabung dengan Sanggar Bambu Yogyakarta dan setahun kemudian mulai membuat komik. Karya komik Teguh di mana gambar realismenya yang meyakinkan, ceritanya yang mengalir dramatik dan cara berbahasanya yang mempunyai gaya ternyata mampu memukau masyarakat pembaca komik tahun ’70-an.

Reputasi Teguh Santosa menjadi makin kokoh melalui trilogi roman sejarah; Sandhora (1969), Mat Romeo (1971) dan Mencari Mayat Mat Pelor (1974). Kreasi Teguh lainnya adalah komik-komik dengan cerita silat-mistik dan silat futuristis yang absurd dengan gambar-gambar surealis.

Ketika masa keemasan komik Indonesia mulai berlalu, di tahun 1985 Teguh masih berkesempatan menggarap epos besar Mahabharata yang kemudian dimuat secara bersambung di majalah anak-anak Ananda. Pada tahun 1990-an, Mahabharata ini digambar ulang dengan model full color untuk diterbitkan oleh penerbit Misurind. Sayang, karena penjualannya yang kurang menjanjikan, serial ini akhirnya harus berakhir di buku ke-10.

Sementara itu di samping membuat komik, Teguh juga banyak menulis artikel dan kritik film serta menulis skenario untuk sinetron dan ludruk. Bahkan ia juga pernah menyutradarai ludruk sayembara Harta Karun Nyi Blorong (1995) di TVRI Surabaya.

Kemampuan Teguh menggambar komik kemudian menarik hati penerbit komik terbesar di dunia, Marvel Comics di New York. Teguh direkrut menjadi inker dalam serial Conan, Alibaba dan Piranha yang semua itu dikerjakannya di dapur Gauntlet Comics di Kanada. Pada saat itu, Teguh adalah satu-satunya komikus Indonesia yang mendapat pengalaman internasional.

Tahun 1998, Teguh Santosa mendapat penghargaan dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Teguh Santosa terus berkarya hingga kanker ganas menyerang tangannya. Saat itu Teguh hanya dapat menunggu ajalnya tiba. Pada dini hari 25 Oktober 2000, Teguh meninggal dunia dan beristirahat dengan damai di dekat makam ibundanya di lereng pegunungan Tegger, desa Nongkojajar, Jawa Timur.

http://www.anelinda-store.com/coverteguh.php




ditemukan link ini:

http://qomiku.wordpress.com/2010/01/10/teguh-santosa/

http://www.anelinda-store.com/coverteguh.php

http://www.fordifp.net/

http://artkimianto.blogspot.com/2011/01/pelukis-komik-teguh-santosa.html

Pelukis KOMIK Djair


Djair Warni, 49 tahun, “Jaka Sembung”


Dia adalah satu dari “The Big Seven”. Dan Djair Warni, komikus itu, menjadi salah satu dari tujuh besar karena karyanya Jaka Sembung, Djaka Gledek, Si Tolol, Kiamat Kandang Haur, Malaikat Bayangan, dan Toan Anak Jin. Seperti rekan-rekannya sesama “The Big Five”, Djair tergolong komikus otodidak. Ia sudah membuat komik sejak masih remaja. Padahal, dulu ayahnya menaruh harapan supaya Djair bercita-cita sebagai insinyur. “Waktu itu saya sering dimarahi Ayah karena lebih senang membuat komik daripada belajar. Akhirnya saya mencuri-curi kesempatan,” tutur Djair. Ia menggemari karya-karya Ganes T.H. (Si Buta dari Goa Hantu), Jan Mintaraga (Rio Purbaya), dan Hans Jaladara (Panji Tengkorak) ini.


Mungkin karena itulah komik-komik Djair juga memiliki pengaruh dari komikus yang dikaguminya; ia cenderung mengisahkan pengembaraan seorang pendekar dalam menegakkan kebenaran. Kisah pengembaraan para pendekar yang dianggap pahlawan itu lengkap dibumbui cerita kehidupan sehari-harinya, sehingga terasa membumi. Lihat saja Jaka Sembung. Berbeda dengan tokoh hero seperti Si Buta dari Goa Hantu atau Panji Tengkorak yang selalu berkawan dengan sunyi, Jaka Sembung justru digambarkan sebagai tokoh yang sudah berkeluarga. Atribut yang digunakan Jaka juga tidak seperti Si Buta, yang berpakaian kulit ular, melainkan baju biasa berlilit sarung. Begitu populernya hingga kisah Jaka Sembung itu sempat diangkat ke layar lebar dengan bintang Barry Prima.

Pada masa jayanya, penghasilan yang diperolehnya cukup untuk menghidupi istri dan ketiga anaknya. Maklum, untuk satu cerita terdiri dari 7 sampai 10 jilid ia memperoleh Rp 100 ribu, yang merupakan angka yang tinggi untuk ukuran tahun 1960-an. Sayang, zaman keemasannya sulit terulang. Ia bahkan pesimistis, komik Indonesia bakal bangkit kembali. Soalnya, “Sekarang sudah ada televisi, bioskop, mal, dan videogame. Anak-anak sudah terbiasa dicekoki komik terjemahan dari luar negeri,” kata Djair. Ia kini banting setir menekuni profesi di dunia sinetron dan film sebagai penulis skenario. Salah satu karyanya adalah skenario film Fatahillah, yang dibiayai Pemerintah DKI (1997).